Pasar Sementara dan Wacana Pembangunan Pasar Baledono

Pasar Baledono pasca kebakaran

Pasar Baledono pasca kebakaran

Jalan Ahmad Yani Purworejo menjadi sangat padat dan macet, terutama di sepanjang pertigaan tugu hingga Bupenceng, Di sanalah pasar darurat baledono digelar di tengah jalan, menyisakan lorong sempit untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor yang lewat.

Tentu sangat mengurangi kenyamanan semua pihak, baik pedagang pasar darurat, pedagang di ruko sepanjang ahmad yani, dan para pengguna jalan, sehingga pasar baledono sementara harus segera dibangun di lahan kosong yang masih memungkinkan dengan akses transportasi yang memadai

Salah satu tempat yang secara lokasi memungkinkan adalah lapangan garnisun, berlokasi di utara alun alun purworejo, lokasi ini bisa dijangakau dengan jalur Angkutan manapun, akses parkir yang bisa mencukupi, dan sarana lain seperti jaringan listrik dan air yang masih memungkinkan.

Hanya butuh koordinasi dengan pihak pemilik lapangan garnisun mengingat masa pakai pasar sementara bisa berkisar 2-3 tahun, tergantung kecepatan
pembangunan Pasar Baledono baru.

Mengenai pembangunan Pasar Baledono baru, menurut Bupati Purworejo -seperti dikutip KRjogja- bisa menggunakan anggaran sendiri, dalam artian tidak perlu menggandeng investor. Yang menjadi masalah bagi pedagang adalah proses kepemilikan kios / los di pasar baru tsb

Pola lama yang biasa dipakai adalah menyewakan kios pasar pada pedagang dengan jangka waktu lama, seperti halnya pedagang pasar Baledono yang menyewa selama 30 tahun, Pola ini mempunyai plus minus, kekurangan nya antara lain jaminan masa sewa pedagang yang belum tentu hingga akhir bila terjadi force majeur, diantaranya kebakaran, mengingat tidak ada jaminan asuransi atas bangunan pasar.

Berbeda halnya dengan pola sewa tempat usaha di tempat swasta, masa sewa tetap dipertahankan hingga akhir, karena bangunan dilindungi dengan asuransi, bila mana terjadi force majeur spt kebakaran dll, maka masa sewa ditunda hingga bangunan baru bisa dibangun dan ditempati lagi, baru masa sewa dilanjutkan kembali. Syarat syarat bangunan gedung dapat diasuransi tentunya bila memiliki standar keamanan gedung seperti tangga dan pintu darurat, pompa hidran, springkler sebagai pemadam otomatis di tiap titik kios, dan detektor asap di tiap titik.

Masa sewa yang terlalu panjang hingga 30 tahun juga sangat rawan penyimpangan, termasuk jual beli kios di bawah tangan, tanpa sepengetahuan pemilik/pengelola pasar, selain itu standar keamanan bangunan biasanya dievaluasi minimal dalam 20 tahun, termasuk untuk mengganti instalasi listrik, pipa air dan komponen bangunan lain seperti atap dll, akan lebih baik bila pembaruan/perpanjangan sewa tempat dilakukan setiap 10 tahun.

Pola lain seperti yang diterapkan di kota Solo adalah menghapus sistem sewa kios dan menggantinya dengan sistem retribusi. Retribusi pasar dinaikkan, pedagang tidak perlu membayar uang sewa lagi di awal, dengan catatan kios yang ditempati tidak boleh dipindah tangankan atau diperjualbelikan. Misalnya tidak ingin berdagang maka surat ijin pemakaian kios dikembalikan kepada pengelola pasar. Retribusi yang cukup tinggi misalkan 3000 per pedagang per hari untuk ukuran pasar baledono dengan 1500 pedagang akan menghasilkan retribusi minimal 4,5 juta sehari, atau 1,6 milliar setahun. Retribusi 5000/hari menghasilkan 2,7 miliar setahun. Besaran retribusi dapat dinaikkan bertahap sesuai tingkat inflasi, tanpa harus memberatkan pedagang di awal jualannya.

Tentu semuanya membutuhkan pengawasan yang ketat, peningkatan layanan kenyamanan pasar dan jaminan keamanan, termasuk juga pembersihan dan penataan pedagang kaki lima seputar pasar, agar pedagang di dalam pasar tidak tersaingi secara tidak sehat oleh pedagang kaki lima.
(Kotapurworejo.com -Indra Adi)

Leave a Reply