20080619170847

Vickynisasi Sebagai Dampak Gaya Bahasa Pejabat

20080619170847

 

Pertengahan september 2013 ini perhatian masyarakat  beralih kepada bahasa “amburadul” seorang “mantan calon” selebritis. Pilihan kata seperti konspirasi kemakmuran, manipulasi hati, labil ekonomi, harmonisisasi, mempertakut dan statusisasi kemakmuran ramai menjadi olok olok internet

1234581_10202093796848880_532867323_n

Kondisi ini menjadi menarik saat masyarakat beramai ramai menggunakan istilah istilah ini , seolah sebagai sindiran atas rusaknya tata bahasa Indonesia di kalangan anak muda saat ini. Bila ditelaah lebih lanjut, sebenarnya kemunculan rusaknya tata bahasa ini sudah dimulai oleh para pejabat di negeri ini

Banyaknya penggunaan kata serapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia oleh para pejabat dan tokoh publik di tiap tiap media secara tidak langsung telah mengajari rakyat bahwa : bahasa Indonesia akan terlihat keren (cool n keep funky) bila menambahkan serapan kata asing ke dalamnya.

Sesungguhnya penggunaan istilah asing yang dipaksakan untuk diserap menjadi bahasa Indonesia menunjukkan “kemalasan berfikir” atas kesamaan kata yang telah dimiliki budaya bahasa Indonesia.  Kemiskinan ide kata bisa terjadi karena pola pikir yang instan dan keinginan untuk menyeragamkan istilah / kata, dan itulah awal dari kehancuran sebuah bahasa, seperti hilangnya ratusan bahasa bahasa daerah di Indonesia, akibat tidak ada keinginan dari rakyat setempat untuk menggunakan bahasa itu, dan berganti menjadi bahasa nasional, dan mengabaikan bahasa daerah sebagai kearifan lokal.

Rusaknya bahasa Indonesia sebagai bagian dari kearifan lokal Indonesia juga akan mengikis kebudayaan Indonesia yang terkenal paling kaya sedunia.  Akan banyak buku buku berbahasa Indonesia baku yang “sulit diterjemahkan” oleh anak muda masa kini. Lebih parahnya lagi, bila bahasa Indonesia semakin rusak, posisinya sebagai bahasa internasional akan semakin melorot meskipun populasi penduduk Indonesia adalah TERBESAR KE-4 SEDUNIA

Menyelamatkan bahasa Indonesia bisa dimulai dari usaha kita secara perorangan. Mulailah berbahasa Indonesia dengan sewajarnya. Bila menggunakan istilah serapan, sebisa mungkin menggunakan istilah serapan lokal bahasa daerah, agar bahasa Indonesia semakin kaya dengan serapan lokal, bukan serapan asing

Setelah berbahasa, langkah berikutnya adalah memakmurkan tulisan tulisan berbahasa Indonesia. Jadilah blogger blogger Indonesia. Bila 2% orang Indonesia melek internet, ada sekitar 5 juta pengguna internet. bila ada 5% blogger dari 5  juta pengguna internet Indonesia, maka ada 250.000 blogger berbahasa Indonesia yang bisa mengguncangkan dunia per-blogger-an dunia. Dan bahasa Indonesia akan semakin diakui keberadaannya karena eksistensi tulisan tulisan berbahasa Indonesia dari waktu ke waktu.

Jadi, ajaklah rekan rekan, kakak dan adik, bapak dan ibu, kakek nenek, om tante dan handai taulan di mana saja berada untuk menjadi blogger Indonesia. Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar tetapi tetap nyaman untuk membacanya.

Bagaimana dengan perilaku pejabat dan tokoh masyarakat di media bila masih sibuk berbahasa sok intelek itu..?? 250.000 blogger Indonesia masih bisa memvonisnya lewat media internet, sama seperti nasib Vicky. Itulah bentuk sanksi sosial di masa teknologi informasi saat ini.

(KotaPurworejo.com -Indra-)

pic: BSE Diknas , Facebook

 

One comment on “Vickynisasi Sebagai Dampak Gaya Bahasa Pejabat

  1. Pingback: Vickynisasi Sebagai Dampak Gaya Bahasa Pejabat | Blogger Purworejo

Leave a Reply